Minggu, 27 Desember 2015

Restui Aku Bunda







Bunda, aku sering mendengar cerita dari kakek, kata kakek: ketika aku lahir aku sebesar botol. Dan hal itu membuat khawatirmu akan diriku. Apakah aku akan hidup didunia? Dengan keadaanku lemas tak berdaya bahkan aku tak bisa membuka mata. Lalu dokter memasukan ku ke dalam aquarium berlampu. Sembilan hari aku didalam itu, sejak aku lahir dari rahim bunda, bunda tak pernah membelaiku, menciumku. Bahkan ayah saja belum sempat mengazani-ku karena aku terus di dalam aquarium berlampu itu. Selama sembilan hari itu , ayah hanya bisa memandangku dari jendela ruang bayi, berdoa untukku. Hingga pada hari ke-sembilan tubuh-ku terlihat sedikit kuat. Aku mulai menagis, dokter pun mengizinkan ayah untuk mengazaniku lalu ayah membawa ku ke panggkuan bunda. bunda menciumku di kening. Benar begitu ceritanya bunda? Itu cerita kakek.

            Adli Dzil Ikram, itu nama yang Ayah berikan pada bayi yang mungil, anak lelaki pertama kebanggaan Ayah dan bunda. Mungkin Ayah menginginkan ku menjadi orang yang Mulia dan Adil. Adli artinya adli dan Dzilikram artinya yang mempunyai kemulian. Begitukah bunda? Aku tak tau alasannya. Mungkin suatu hari nanti aku ingin dengar cerita bunda.
           
         Bunda, maafkan aku!. Mungkin aku tak bisa mengikuti kemauan Bunda untuk menjadi  seorang Polisi. Aku masih ingat ketika aku tamat Sekolah dasar dulu. Tentang undangan Sekolah Musik di Las Vegas. Bunda tak megizinkanku kesana, alasannya karena iman ku belum kuat. Lalu Bunda mengirimku ke Pondok Pesantren. Awalnya aku tak betah disana tapi lama kelamaan aku terasa sadar aku memang harus menguatkan imanku. Di Pondok Pesantren aku banyak medapatkan Ilmu. Ketika itu aku memutuskan untuk menetap disitu selama enam tahun. Tapi aku sedikit kecewa dengan bunda, mengapa bunda menjual Drum kesayanganku?. Aku tau maksud Bunda ingin menjauhkanku dengan musik. Apa sekarang Bunda juga ingin menjauhkan ku dengan Laptop dan Kameraku.

            Bunda, mungkin Tiga Bulan lagi aku genap enam tahun disana. Sudah seharusnya aku memilih jalann hidupku. Kemana harus aku berlabu setelah ini. Umurku sekarang tujuh belas tahun, Aku sudah mengerti arti dari suatu keadaan. Bunda, biarlah aku memilih sendiri jalan hidupku, mungkin tak jadi seorang Polisi. Dan maafkan aku Bunda, jika selama enam tahun di Pondok aku tak bisa memberikan hasil yang memuaskan. Belakangan ini aku sibuk dengan cerita ceritaku. Sebenarnya Bunda, keinginanku sederhana: aku hanya ingin bercerita. Bunda jangan khawatir! Aku tau selama ini bunda berpikir, jika aku  mengambil fakultas komunikasi tak banyak menghasilkan uang. Uang itu tak bahagia bunda. Keinginan yang membuat bahagia, keinginan juga menghasilkan uang. Aku tau itu, dari pertanyaan bunda ke aku: ‘mau kerja dimana nanti?’

            Bunda, ‘carilah ilmu sampai ke-negeri cina’ itu pesan ustadku. Aku ingin pergi jauh dari ranah ini. Mencari suasana baru, aku ingin melihat salju jatuh dari langit bunda. Sederhana kan keinginanku. Kota manchester tujuanku. Disana ada thomas, ingatkan bunda! Bule yang berbicara denganku disaat kita liburan ke pulau weh. Hingga saat ini aku masih berkomunikasi dengannya. Aku sering men-email-nya hanya ingin menanyakan ‘sedang musim apa disana?, saljukah?’. Bunda, air yang jernih dia akan kotor ketika dia tak mengalir, Begitu juga denganku. Ku rasa bunda mengerti!
  
          Bunda, namun perantauan bukanlah tempat yang menenangkan. Banyak orang kesana karena ilmu dan harta lantas mereka kembali karena rindu dan cinta. Rindu bunda, pasti jika datang waktunya aku akan pulang.  Aku bukanlah  maling kundang yang seperti ibu ceritakan padaku. Bunda, Kerinduan akan terus bergejolak seperti api. Dan hanya bisa di obati dengan pertemuan walaupun se-singkat apa pun. Jika disana, aku rindu ketika Ayah menyuruhku untuk mengetik laporannya, aku akan rindu Kiki ketika bermain sepeda bersama, aku rindu mie buatan dina dan Raziq yang selalu minta digendong ketika aku pulang tiap senja. Pasti dia sudah besar ketika aku pulang nanti. Aku akan rindu Bunda. Restui aku Bunda!

           Dan cinta bunda,  dia yang mungkin belum mengerti akan perasaan tulus ku ini, seorang wanita yang bunda liat fotonya di dinding dekat meja menulisku. ‘si gula pasir’ itu yang tertulis di bawah fotonya. Tapi namanya bukan ‘si gula pasir’ bunda, itu judul cerita yang sedang ku tulis. Namanya: Adinda Alya Musfiqa. Nama yang indah bukan bunda. Entah mengapa aku sangat cinta padanya. Dia menyuruhku untuk melupakan. Tapi aku tak tau apa salahku padanya. Aku malu Bunda, karena aku tak bisa melupakannya. Aku ingin melupakan dia tapi bayangannya menarik ulur tanganku dan berkata: ‘jangan pergi’.  Namun, aku yakin suatu hari nanti pasti dia akan mengerti.
     
        Bunda, dia pernah berkata persis seperti bunda. Bunda masih ingatkan ketika bunda melihat aku sedang dalam lamunan fotonya lalu bunda berkata: ‘jangan terlalu berharap’. Dia juga pernah berkata seperti itu padaku. Bunda, tak salah jika kita berharap, bukan kah berharap itu sikap manusiawi tapi kita harus memiliki tiang ikhlas di hati. Ikhlas jika nantinya apa yang kita inginkan tak terwujud. Namun, jika berharap dengan doa insyaallah akan terwujud. Tidak di dunia pasti di surga Bunda.
         
       Bunda, aku akan kembali karena dinda. Karena hinga saat ini aku tak bisa melupakannya. Entahlah bunda! Hidup ini hanya sekumpul kemungkinan tuhan yang menetentukanya. Aku harus mempersiapkan sekuntum mawar buat dinda makanya aku harus pergi. Aku mohon restui aku Bunda. Aku sayang Bunda.







Restui Aku Bunda Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Dzil Ikram

0 komentar:

Posting Komentar